. AKU, ALKOHOL, DAN KAMU
.
Tolol benar aku malam itu!
Seribu kali aku coba berdiri
Seribu satu kali jatuh lagi
Kakiku benar-benar telah terikat
Hatiku benar-benar sudah kau jerat
Akal sehatku berkata aku harus pergi
Tapi wiski, tau betul bagaimana caranya berdiskusi
Alkohol, Aku, dan Kamu
Kita bertiga terlibat dalam asmara yang bercerai dengan logika
Asmara yang berputar-putar diluar kotak analisa
Kau, wanita yang tak banyak bicara
Kata-katamu tak pernah panjang
Namun begitu dalam
Sedang aku?
Pemabuk yang juga kecanduan puisi
Walau mabuk berat, aku masih mampu ber-filsafat
Sudah kubolak balik lembar hatimu
dari bab satu sampai bab seribu
Tak pernah benar-benar bisa ku-urai makna, meski ku hafal betul segala tafsirnya
Ada emosi yang menggetarkan dadaku waktu itu
Tenaga mistik seketika menjalar
Kelenjar-kelenjarku mulai bekerja
Menerjemahkan bahasa dendam
Dendam terhadap lapar
Dendam terhadap kemiskinan
Dan dendam terhadap birahi laki-bini di gubuk pinggir kali
Jack Daniel's, EsKozi, Martini, Dan hangover jalan Cikini
Colombus, sampai Arak Cap Tikus
Ini kali terakhir aku tersungkur!
Keluar dari satu Bar,
Masuk dan tersesat di Bar lainnya
Tertidur pula di parkirannya!
Astaga.....
Waktu itu tekadku pernah bulat sempurna
Takkan lagi kutoreh kebelakang
Tak akan lagi kucoba menuang kenang
Telah kumerdekakan diri dari penjajahan jiwa
Dari semua gengsi,
Dari tafsir yang sangsi,
Dari daya tarikmu yang cadas
dan dari setiap jengkal pergiku yang tak pernah tuntas
Aku, berdiskusi kembali dengan Whiskey:
Kuceritakan padanya semua tentangmu
Dia malah diam
Kucium aroma tubuhnya
Masih terasa sama
Dialektika macam apa itu?
Seperti orang gila, gelas pula kuajak bicara
Kalau difikir-fikir....
Mungkin kau ada benarnya juga "Kelak Alkohol itu yang akan mengantarmu padaku"
"Ataukah aku yang akan kembali padamu"
Aku, Alkohol, dan kamu
Kita, Selalu, Segitiga..
.
.
Cikini
2018
No comments:
Post a Comment