Sunday, 13 May 2018

TAK PERNAH LAGI PAGI

aku ingin datang kepadamu dan membawakan ingatan. tentang bau mawar yang dulu lekat kini jadi hampir berkarat. tentang cangkir kopi yang bibirnya menipis sebab bergantian kita kecupi, atau tentang kesepianku, yang selalu meminta kau kunjungi, tapi kedatanganmu, adalah tiada.

akhir-akhir ini aku menisbikanmu lewat malam. biar tak perlu ada yang diharuskan padam. meski aku akan jadi kian mengelam.

sudah kuuraikan puisi di mataku, biar kau tak perlu terlalu jauh menyelam. tapi matamu, adalah pembaca yang melewatkanku.

ketiadaanmu hanya memberiku ruang untuk terus bersedih. detik waktu serupa tuts-tuts belati yang merajam tepat di ulu hati.

di kepalaku kenangan adalah mesiu, kesepian adalah bibir yang menghitung mundur untuk ia dapat meledak sewaktu-waktu.

sudah penuh seluruh bejana dengan airmataku. ketiadaanmu hanya mengizinkan waktu menjelma tungku yang mendiang asa-asa sampai merah jadi bara, habis jadi jelaga, kemudian digandeng angin entah ke mana.

tidak perlu kita saling menakar dan menukar gelisah. milikku adalah yang paling bangir sebab kau tak pernah lagi menaruh tubuhmu biar tinggal di rumah.

seperti ketika sepasang bibir kita bergumul di minggu lalu. aku meresah sebab kau tak lagi memejam dan mendesah. adakah kau cintai lidah yang lain? adakah teguk untuk ludah yang lain?

tapi aku masih sanggup ada di sini, di ruang antrean nomor entah. menantimu yang mulai berpaling untuk kembali berpulang. meski kau tak pernah tahu sebesar apa kumiliki gamang.

memang, benar katamu, yang menyala kelak pasti redup. aku melihatnya pada lentera kita. mereka tak pernah lagi seterang biasanya. hanya remang. seperti kamar ini ketika kau dan aku saling membangun surga di atas tubuh setapak, dengan kecupan-kecupan yang tak pernah mampu terhitung angka, dengan pakaian-pakaian yang kita biarkan kedinginan di lantai, dengan lenguh dan desah kita yang memuput sepi menjauh, sebelum pagi bertandang dan membawa langkahmu pergi dari tempat ini; petak kamar yang setelah kau tinggalkan, tak pernah lagi menemukan pagi.

-Jimniawan
#daurlebur

Thursday, 3 May 2018

Jangan sampai percuma melepas aku

Sampai kapanpun aku takan pernah tau bagaimana cara mencintaimu ,maaf atas semua yang aku lakukan padamu  tapi percaya lah ....aku pergi sudah menjadi takdir ,takdir di mana saat nya kamu mencari orang yg lebih tau untuk mencintaimu ,ya aku orang yang keras kepala karena tuhan menciptakan kepala dengan kondisi keras agar tak mudah hancur ... Aku pernah berfikir ,memikirkan cara membalas budi padamu kamu telah merubahku mendekati tuhan ,,terima kasih untuk itu ,, oh iya  tenang aku selalu berdoa ,berdoa dengan namamu agar selalu menghiasi langit dan langit tak lagi menjadi saksi cinta kita akan tetapi  langit  menyimpan kenangan indah kita dan baru saja terjadi kira-kira 2 jam sebelum aku menulis tulisan busuk ini... Jangan sampai menyesal melepas aku ,aku tak menyalahkanmu tapi kamu harus tau kesalahanmu itu sendiri 😊