Monday, 29 October 2018
JIKA
Monday, 17 September 2018
Berhenti Mendoakanmu
Thursday, 23 August 2018
Aku, Alkohol Dan Kamu
. AKU, ALKOHOL, DAN KAMU
.
Tolol benar aku malam itu!
Seribu kali aku coba berdiri
Seribu satu kali jatuh lagi
Kakiku benar-benar telah terikat
Hatiku benar-benar sudah kau jerat
Akal sehatku berkata aku harus pergi
Tapi wiski, tau betul bagaimana caranya berdiskusi
Alkohol, Aku, dan Kamu
Kita bertiga terlibat dalam asmara yang bercerai dengan logika
Asmara yang berputar-putar diluar kotak analisa
Kau, wanita yang tak banyak bicara
Kata-katamu tak pernah panjang
Namun begitu dalam
Sedang aku?
Pemabuk yang juga kecanduan puisi
Walau mabuk berat, aku masih mampu ber-filsafat
Sudah kubolak balik lembar hatimu
dari bab satu sampai bab seribu
Tak pernah benar-benar bisa ku-urai makna, meski ku hafal betul segala tafsirnya
Ada emosi yang menggetarkan dadaku waktu itu
Tenaga mistik seketika menjalar
Kelenjar-kelenjarku mulai bekerja
Menerjemahkan bahasa dendam
Dendam terhadap lapar
Dendam terhadap kemiskinan
Dan dendam terhadap birahi laki-bini di gubuk pinggir kali
Jack Daniel's, EsKozi, Martini, Dan hangover jalan Cikini
Colombus, sampai Arak Cap Tikus
Ini kali terakhir aku tersungkur!
Keluar dari satu Bar,
Masuk dan tersesat di Bar lainnya
Tertidur pula di parkirannya!
Astaga.....
Waktu itu tekadku pernah bulat sempurna
Takkan lagi kutoreh kebelakang
Tak akan lagi kucoba menuang kenang
Telah kumerdekakan diri dari penjajahan jiwa
Dari semua gengsi,
Dari tafsir yang sangsi,
Dari daya tarikmu yang cadas
dan dari setiap jengkal pergiku yang tak pernah tuntas
Aku, berdiskusi kembali dengan Whiskey:
Kuceritakan padanya semua tentangmu
Dia malah diam
Kucium aroma tubuhnya
Masih terasa sama
Dialektika macam apa itu?
Seperti orang gila, gelas pula kuajak bicara
Kalau difikir-fikir....
Mungkin kau ada benarnya juga "Kelak Alkohol itu yang akan mengantarmu padaku"
"Ataukah aku yang akan kembali padamu"
Aku, Alkohol, dan kamu
Kita, Selalu, Segitiga..
.
.
Cikini
2018
Sunday, 13 May 2018
TAK PERNAH LAGI PAGI
aku ingin datang kepadamu dan membawakan ingatan. tentang bau mawar yang dulu lekat kini jadi hampir berkarat. tentang cangkir kopi yang bibirnya menipis sebab bergantian kita kecupi, atau tentang kesepianku, yang selalu meminta kau kunjungi, tapi kedatanganmu, adalah tiada.
akhir-akhir ini aku menisbikanmu lewat malam. biar tak perlu ada yang diharuskan padam. meski aku akan jadi kian mengelam.
sudah kuuraikan puisi di mataku, biar kau tak perlu terlalu jauh menyelam. tapi matamu, adalah pembaca yang melewatkanku.
ketiadaanmu hanya memberiku ruang untuk terus bersedih. detik waktu serupa tuts-tuts belati yang merajam tepat di ulu hati.
di kepalaku kenangan adalah mesiu, kesepian adalah bibir yang menghitung mundur untuk ia dapat meledak sewaktu-waktu.
sudah penuh seluruh bejana dengan airmataku. ketiadaanmu hanya mengizinkan waktu menjelma tungku yang mendiang asa-asa sampai merah jadi bara, habis jadi jelaga, kemudian digandeng angin entah ke mana.
tidak perlu kita saling menakar dan menukar gelisah. milikku adalah yang paling bangir sebab kau tak pernah lagi menaruh tubuhmu biar tinggal di rumah.
seperti ketika sepasang bibir kita bergumul di minggu lalu. aku meresah sebab kau tak lagi memejam dan mendesah. adakah kau cintai lidah yang lain? adakah teguk untuk ludah yang lain?
tapi aku masih sanggup ada di sini, di ruang antrean nomor entah. menantimu yang mulai berpaling untuk kembali berpulang. meski kau tak pernah tahu sebesar apa kumiliki gamang.
memang, benar katamu, yang menyala kelak pasti redup. aku melihatnya pada lentera kita. mereka tak pernah lagi seterang biasanya. hanya remang. seperti kamar ini ketika kau dan aku saling membangun surga di atas tubuh setapak, dengan kecupan-kecupan yang tak pernah mampu terhitung angka, dengan pakaian-pakaian yang kita biarkan kedinginan di lantai, dengan lenguh dan desah kita yang memuput sepi menjauh, sebelum pagi bertandang dan membawa langkahmu pergi dari tempat ini; petak kamar yang setelah kau tinggalkan, tak pernah lagi menemukan pagi.
-Jimniawan
#daurlebur
Thursday, 3 May 2018
Jangan sampai percuma melepas aku
Sampai kapanpun aku takan pernah tau bagaimana cara mencintaimu ,maaf atas semua yang aku lakukan padamu tapi percaya lah ....aku pergi sudah menjadi takdir ,takdir di mana saat nya kamu mencari orang yg lebih tau untuk mencintaimu ,ya aku orang yang keras kepala karena tuhan menciptakan kepala dengan kondisi keras agar tak mudah hancur ... Aku pernah berfikir ,memikirkan cara membalas budi padamu kamu telah merubahku mendekati tuhan ,,terima kasih untuk itu ,, oh iya tenang aku selalu berdoa ,berdoa dengan namamu agar selalu menghiasi langit dan langit tak lagi menjadi saksi cinta kita akan tetapi langit menyimpan kenangan indah kita dan baru saja terjadi kira-kira 2 jam sebelum aku menulis tulisan busuk ini... Jangan sampai menyesal melepas aku ,aku tak menyalahkanmu tapi kamu harus tau kesalahanmu itu sendiri 😊

